Inilah Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Muharram

Adakah saran puasa tanggal 11 Bln. Muharram?

Beberapa ulama memiliki pendapat, disarankan melakukan puasa tanggal 11 Muharram, sesudah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasar pada hadis :

صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما

“Puasalah hari Asyura’ serta janganlah sama juga dengan jenis orang yahudi. Puasalah satu hari terlebih dulu atau satu hari sesudahnya. ” (HR. Ahmad, Al Bazzar).

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini dapat dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz :

صوموا قبله يوماً وبعده يوماً

“Puasalah satu hari terlebih dulu serta satu hari selanjutnya. ”

Dengan memakai kata hubung وَ (yang bermakna “dan”) sesaat hadis terlebih dulu memakai kata hubung أَو�’ (yang artinya “atau”).

Al-Hafidz Ibn Hajar menerangkan status hadis diatas :
Hadis ini diriwayatkan Ahmad serta al-Baihaqi dengan sanad dhaif, lantaran kondisi perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Walau demikian dia tak sendirian. Hadis ini mempunyai jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Sekian info Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.

Disamping itu, ulama lain memiliki pendapat kalau puasa tanggal 11 tak disyariatkan, lantaran hadis ini sanadnya dhaif. Seperti info Al Albani serta Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Cuma saja disarankan untuk lakukan puasa tiga hari, bila dia tak dapat meyakinkan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.
Imam Ahmad menyampaikan :

Bila awal bln. Muharram tak terang jadi baiknya puasa tiga hari : (tanggal 9, 10, serta 11 Muharram), Ibnu Sirrin menerangkan sekian. Beliau mempraktekkan hal semacam itu supaya lebih meyakini untuk memperoleh puasa tanggal 9 serta 10. (Al Mughni, 3/174. Di ambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).

Selain itu, lakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, serta 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menyarankan untuk perbanyak puasa sepanjang di bln. Muharram. Seperti yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik puasa sesudah Ramadlan yaitu puasa di bln. Allah, bln. Muharram. ” (HR. Muslim)

Ibnul Qayim menerangkan kalau puasa berkaitan hari Asyura ada tiga tingkatan :

Tingkatan paling prima, puasa tiga hari. Satu hari sebelumnya Asyura, hari Asyura, serta satu hari sesudahnya.
Tingkatan ke-2, puasa tanggal 9 serta tanggal 10 Muharram. Ini berdasar pada banyak hadis.
Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
(Zadul Ma’ad, 2/72)

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

Beberapa ulama memiliki pendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Lantaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merencanakan untuk puasa tanggal 9, di th. selanjutnya, dengan maksud menyelisihi jenis puasa orang yahudi. Ini adalah pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.

Disamping itu, ulama yang lain memiliki pendapat kalau lakukan puasa tanggal 10 saja tak makruh. Walau demikian yang tambah baik, diiringi dengan puasa satu hari terlebih dulu atau satu hari selanjutnya, dalam rencana melakukan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah di tanya :
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa ada puasa satu hari terlebih dulu atau satu hari selanjutnya. Mengingat ada beberapa orang yang menyampaikan kalau hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram sudah hilang, dikarenakan pada sekarang ini, orang yahudi serta nasrani tak akan lakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab :
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, tidaklah pendapat yang disetujui beberapa ulama. Di antara mereka ada yang memiliki pendapat tak makruh lakukan puasa tanggal 10 saja, tetapi baiknya dia berpuasa satu hari terlebih dulu atau satu hari sesudahnya. Serta puasa tanggal 9 tambah baik daripada puasa tanggal 11. Tujuannya, yang tambah baik, dia berpuasa satu hari terlebih dulu, berdasar pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masihlah hidup th. depan, saya bakal puasa tanggal sembilan (muharram). ” maksud beliau yaitu puasa tanggal 9 serta 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melakukan puasa tanggal 10 saja hukumnya tak makruh. Walau demikian yang tambah baik yaitu diiringi puasa satu hari terlebih dulu atau satu hari sesudahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s