Apa Perbedaan Sholat di Masjidil Haram dan di Masjid Sekitarnya?

dalam bahasan terdahulu sudah menyinggung permasalahan ini. Tetapi dalam tulisan kesempatan ini kami bakal mempelajari lebih jauh dari manakah beberapa ulama yang menyampaikan kalau pahala shalat juga berlipat ganda di semua Makkah.

Apa Perbedaan Sholat di Masjidil Haram dan di Masjid Sekitarnya

Beberapa ulama berselisih pendapat mengenai yang disebut masjidil haram tempat dilipat gandakannya pahala shalat.

Pendapat pertama, yang disebut masjidil haram yaitu Ka’bah.

Dalil dari pendapat yaitu firman Allah Ta’ala,

فَوَلِّ وَج�’هَكَ شَط�’رَ ال�’مَس�’جِدِ ال�’حَرَامِ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. ” (QS. Al Baqarah : 144). Yang disebut dengan mengarahkan muka dalam ayat ini yaitu ke Ka’bah saja. Sanggahan : Yang disebut masjidil haram disini tunjukkan taghlib (global), yakni pada umumnya tujuannya yaitu Ka’bah.

Pendapat ini dapat berdalil dengan hadits,

صَلاَةٌ فِى مَس�’جِدِى هَذَا أَف�’ضَلُ مِن�’ أَل�’فِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ ال�’مَسَاجِدِ إِلاَّ ال�’كَع�’بَةَ

“Shalat di masjidku (masjid Nabawi) tambah baik dair 1000 shalat di masjid lainyya terkecuali Ka’bah”. (HR. An Nasai no. 2899, Ahmad 2/386. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani). Sanggahan : yang disebut dalam hadits ini yaitu Masjid Ka’bah (yakni masjid yang di dalamnya ada Ka’bah). Hal semacam ini diterangkan dalam hadits Maimunah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

صَلاَةٌ فِيهِ أَف�’ضَلُ مِن�’ أَل�’فِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ ال�’مَسَاجِدِ إِلاَّ مَس�’جِدَ ال�’كَع�’بَةِ

“Shalat di dalamnya (masjid Nabawi) tambah baik dari 1000 shalat di masjid yang lain terkecuali Masjid Ka’bah” (HR. Muslim no. 1396). Pendapat berikut yang diambil oleh ulama Syafi’iyah terakhir.

Pendapat ke-2, yang disebut masjidil haram yaitu masjid yang di dalamnya ada Ka’bah (artinya bukanlah semua Makkah). Berikut pendapat ulama Hambali serta dikuatkan oleh beberapa ulama Syafi’iyah dan juga diambil oleh ulama terakhir seperti Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin.

Dalil dari pendapat ini yaitu firman Allah Ta’ala,

وَلا تُقَاتِلُوهُم�’ عِن�’دَ ال�’مَس�’جِدِ ال�’حَرَامِ

“Dan jangan sampai anda memerangi mereka di Masjidil Haram” (QS. Al Baqarah : 191).

Demikian halnya firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا ال�’مُش�’رِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَق�’رَبُوا ال�’مَس�’جِدَ ال�’حَرَامَ بَع�’دَ عَامِهِم�’ هَذَا

“Sesungguhnya beberapa orang yang musyrik itu najis, jadi jangan sampai mereka mendekati masjidil haram setelah th. ini” (QS. At Taubah : 28). Yang disebut dengan ayat diatas yaitu masjid jama’ah yang di dalamnya ada Ka’bah.

Ayat lain yang memperkuat pendapat ini yaitu firman Allah Ta’ala,

سُب�’حَانَ الَّذِي أَس�’رَى بِعَب�’دِهِ لَي�’لاً مِنَ ال�’مَس�’جِدِ ال�’حَرَامِ إِلَى ال�’مَس�’جِدِ ال�’أَق�’صَى

“Maha Suci Allah, yang sudah memperjalankan hamba-Nya disuatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha” (QS. Al Isra’ : 1). Satu diantara pendapat menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan isro’ mi’roj dari kamar di tempat tinggalnya. Ada juga pendapat yang menyampaikan kalau beliau mengerjakannya dari tempat tinggal Ummu Hani, serta itu diluar masjid. Berikut yang jadi dalil kalau semua tanah haram (semua Makkah) dimaksud masjidil haram. Tetapi permasalahan dari tempat mana beliau mulai berisro’, hal semacam ini diperselisihkan beberapa ulama. Dalam hadits dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sho’sho’ah, ia berkata kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita malam beliau lakukan isro’,

بَي�’نَمَا أَنَا فِى ال�’حَطِيمِ – وَرُبَّمَا قَالَ فِى ال�’حِج�’رِ

“Tatkala itu saya ada di tembok Ka’bah, dapat disebutkan juga di al Hijr. ” (HR. Bukhari no. 3887)

Hadits lain yang memperkuat pendapat ini yaitu hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

مَن�’ صَلَّى فِي مَس�’جِدِ رَسُولِ اللَّهِ فَإِنِّي سَمِع�’تُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَي�’هِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الصَّلَاةُ فِيهِ أَف�’ضَلُ مِن�’ أَل�’فِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا مَس�’جِدَ ال�’كَع�’بَةِ

“Barangsiapa shalat di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadi sungguh saya pernah mendengar beliau bersabda : Shalat di masjidku (masjid Nabawi) tambah baik dari 1000 shalat di masjid yang lain terkecuali masjid Ka’bah (masjid yang di dalamnya ada Ka’bah) ” (HR. Muslim no. 1396 serta An Nasai no. 691)

Argumen yang lain lagi yaitu hadits,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَس�’جِدِى هَذَا وَمَس�’جِدِ ال�’حَرَامِ وَمَس�’جِدِ الأَق�’صَى

“Janganlah bersengaja lakukan perjalanan dengan berniat (dalam rencana beribadah) terkecuali ke tiga masjid : masjidku ini (masjid Nabawi), masjidil Haram serta Masjidil Aqsho. ” (HR. Bukhari no. 1189 serta Muslim no. 1397). Dari hadits ini bisa dipahami kalau bila seorang bersengaja lakukan perjalanan beribadah ke Makkah, tetapi ia berkunjung ke terkecuali masjidil haram, yakni ke masjid-masjid yang ada di tanah Makkah, jadi itu tidaklah yang ditujukan dalam hadits diatas, bahkan juga mungkin saja terlarang bila ia cuma berkunjung ke masjid-masjid sekitaran saja. Yang ditujukan dalam hadits itu yaitu ke Masjidil Haram, yakni masjid yang ada Ka’bah, tempat berlipatnya pahala.

Pendapat ketiga, yang disebut masjidil haram yaitu semua tanah haram, yakni semua Makkah. Berikut pendapat ulama Hanafiyah serta Malikiyah. Pendapat ini dapat dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim serta Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz.

Dalil dari pendapat ini, pertama yaitu firman Allah Ta’ala,

Pendapat Terkuat

Dari keterangan diatas, berdasar pada dalil terkuat serta sanggahan-sanggahan yang didapatkan, jadi kami lebih tenang pada pendapat ke-2 yang menyebutkan kalau Masjidil Haram tempat dilipatgandakan pahala tidaklah semua Makkah atau semua tanah haram, namun spesial di masjid yang di dalamnya ada Ka’bah (yakni Masjidil Haram yang kita kenal). Keterangan diatas jadi koreksi pada pendapat kami terlebih dulu di tulisan “Pahala Shalat di Makkah 100. 000 kali”. Koreksi ini datang sesudah lihat perselisihan yang ada serta dalil yang dibawakan. Jadi, pendapat ulama Hambali serta ulama Syafi’iyah berikut yang kami anut sekarang ini.

Jadi untuk lelaki bila ada di tanah haram Makkah serta tak jauh dan tak menyusahkan, sebaiknya ia berupaya shalat di Masjidil Haram supaya memperoleh pahala melimpah. Sedang wanita, bila ia tetaplah shalat dirumah atau di hotelnya, jadi itu tetaplah tambah baik dari shalat di Masjidil Haram, artinya pahalanya tetaplah semakin banyak. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Ummu Humaid,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s